BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Bimbingan konseling adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face)
oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami
sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang
dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan
sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami
dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat
merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Bidang Bimbingan Pribadi adalah
bidang bimbingan yang meliputi pemantapan keimanan, porensi diri, bakat, minat
pemahaman kelemahan diri, kemampuan pengambilan keputusan sehingga dapat
merencanakan kehidupan yang sehat. Bidang Bimbingan Sosial adalah bidang yang
meliputi kemampuan yang berkomunikasi, berargu mentasi, bertingkah laku sesuai
dengan kebiasaan yang berlaku di rumah dan masyarakat.
Tujuan pelayanan bimbingan ialah
agar konseli dapat: Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan
karir serta kehidupan-nya di masa yang akan dating, Mengembangkan seluruh
potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin, Menyesuaikan diri
dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya, Mengatasi
hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan
pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Bimbingan pribadi merupakan upaya
untuk membantu individu dalam menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dam mandiri serta sehat jasmani
dan rohani. Sementara bimbingan sosial merupakan upaya untuk membantu individu
dalam mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi
pekerti luhur dan tanggung jawab. Bimbingan pribadi-sosial berarti upaya untuk
membantu individu dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi
konflik-konflik dalam diri dalam upaya mengatur dirinya sendiri di bidang
kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual
dan sebagainya, serta upaya membantu individu dalam membina hubungan sosial
di berbagai lingkungan (pergaulan sosial) (Yusuf, 2009: 53-55).
Pada dasarnya bimbingan tidak hanya
berfungsi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi individu (kuratif),
melainkan memiliki fungsi lain yaitu sebagai upaya pencegahan (preventif)
dan pengembangan (developmental). Lynn Bullard (Syamsu Yusuf, 1998:78)
mengungkapkan untuk melakukan reformasi (pembaharuan) program bimbingan dan
konseling secara tepat, maka layanan-layanannya harus diintegrasikan ke dalam
program-program yang berorientasi pengembangan, yang membantu para siswa
mengembangkan dan mempraktekkan kompetensi-kompetensinya.
B. Rumusan
Masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut
:
a. Bagaimanakah Pengertian
BK Pribadi-Sosial
b. Untuk
apakah tujuan BK Pribadi-Sosial
c. Apakah
fungsi BK Pribadi Sosial
C. Tujuan
Penulisan
Penulisan makalah yang kami susun ini yaitu bertujuan untuk :
a. Memahami dan mendeskripsikan Konsep dasar layanan BK pribadi sosial tentang
Pengertian,
tujuan, dan fungsi BK Pribadi Sosial.
b. Agar mengetahui teori-teori
BK Pribadi Sosia.
c. Membuat
hasil laporan berupa makalah sehingga dapat kami presentasikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR LAYANAN BIMBINGAN
DAN KONSELING PRIBADI SOSIAL
a. Pengertian BK Pribadi-Sosial
Bimbingan merupakan upaya untuk membantu individu
berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya secara bertahap dalam
proses yang matang. Rochman Natawidjaja (Syamsu Yusuf, 2009: 38) mengartikan
bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan
secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya,
sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan
tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.
W.S. Winkel (1991: 124) mendefinisikan bimbingan sebagai pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam mengadakan penyesuaian diri terhadap tuntutan hidup.
Moh. Surya (1988:36) mengemukakan bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Senada dengan pendapat M.Surya, Prayitno (1987:35) mengemukakan : Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup 5 fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu
W.S. Winkel (1991: 124) mendefinisikan bimbingan sebagai pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam mengadakan penyesuaian diri terhadap tuntutan hidup.
Moh. Surya (1988:36) mengemukakan bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Senada dengan pendapat M.Surya, Prayitno (1987:35) mengemukakan : Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup 5 fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu
1. Mengenal diri sendiri dan
lingkungan,
2. Menerima diri sendiri dan lingkungan
secara positif dan dinamis,
3. Mengambil keputusan,
4. Mengarahkan diri,
5. Mewujudkan diri.
Berdasarkan definisi-definisi bimbingan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan
yaitu :
1. Bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada individu secara kontinyu dan sistematis,
2. Bertujuan untuk membantu proses
pengembangan potensi diri melalui pola-pola sosial yang dilakukannya
sehari-hari di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Pola-pola sosial
yang dimaksudkan adalah pola-pola dimana individu tersebut dapat melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Bimbingan pribadi merupakan upaya untuk membantu individu dalam menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dam mandiri serta sehat jasmani dan rohani. Sementara bimbingan sosial merupakan upaya untuk membantu individu dalam mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung jawab. Bimbingan pribadi-sosial berarti upaya untuk membantu individu dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi konflik-konflik dalam diri dalam upaya mengatur dirinya sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya, serta upaya membantu individu dalam membina hubungan sosial di berbagai lingkungan (pergaulan sosial) (Yusuf, 2009: 53-55).
Pada dasarnya bimbingan tidak hanya
berfungsi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi individu (kuratif),
melainkan memiliki fungsi lain yaitu sebagai upaya pencegahan (preventif)
dan pengembangan (developmental). Lynn Bullard (Syamsu Yusuf, 1998:78)
mengungkapkan untuk melakukan reformasi (pembaharuan) program bimbingan dan
konseling secara tepat, maka layanan-layanannya harus diintegrasikan ke dalam
program-program yang berorientasi pengembangan, yang membantu para siswa
mengembangkan dan mempraktekkan kompetensi-kompetensinya.
Bimbingan
dan konseling yang
berorientasi pengembangan tidak hanya berfungsi untuk membantu individu ketika
permasalahan muncul, melainkan lebih kepada sebelum permasalahan terjadi dan
upaya membantu individu mencapai self developmental dan self realization.
Individu dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi
positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan,
(A.K. Nayak,1997: 5).
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan
(2005 : 11) merumuskan bimbingan pribadi-sosial sebagai suatu upaya membantu
individu dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan keadaan psikologis
dan sosial klien, sehingga individu memantapkan kepribadian dan mengembangkan
kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinnya.
Bimbingan pribadi-sosial juga sebagai upaya pengembangan kemampuan peserta didik untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah pribadi-sosial dengan cara menciptakan lingkungan interaksi pendidikan yang kondusif, mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap-sikap positif, serta dengan mengembangkan kemampuan pribadi-sosial.
Berdasarkan berbagai pengertian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan bimbingan pribadi-sosial merupakan upaya layanan yang diberikan kepada siswa agar mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialaminya, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, sehingga mampu membina hubungan sosial yang harmonis di lingkungannya. Bimbingan pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri, dan sikap-sikap yang positif, serta kemampuan-kemampuan pribadi sosial yang tepat.
Bimbingan pribadi-sosial juga sebagai upaya pengembangan kemampuan peserta didik untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah pribadi-sosial dengan cara menciptakan lingkungan interaksi pendidikan yang kondusif, mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap-sikap positif, serta dengan mengembangkan kemampuan pribadi-sosial.
Berdasarkan berbagai pengertian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan bimbingan pribadi-sosial merupakan upaya layanan yang diberikan kepada siswa agar mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialaminya, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, sehingga mampu membina hubungan sosial yang harmonis di lingkungannya. Bimbingan pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri, dan sikap-sikap yang positif, serta kemampuan-kemampuan pribadi sosial yang tepat.
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005:14), merumuskan
beberapa tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek
pribadi-sosial sebagai berikut :
1. Memiliki komitmen yang kuat dalam
mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya,
sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
2. Memiliki sikap toleransi terhadap
umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan
kewajibannya masing-masing.
3. Memiliki pemahaman tentang irama
kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama
yang dianutnya.
4. Memiliki pemahaman dan penerimaan
diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan
maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.
5. Memiliki sifat positif atau respek
terhadap diri sendiri dan orang lain.
6. Memiliki kemampuan melakukan pilihan
secara sehat.
7. Bersikap respek terhadap orang lain,
menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga
dirinya.
8. Memiliki rasa tanggung jawab yang
diwujudkan dalam bentuk komitmen, terhadap tugas dan kewajibannya.
9. Memiliki kemampuan berinteraksi
sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk persahabatan,
persaudaraan atau silaturahmi dengan sesama manusia.
10. Memiliki kemampuan dalam
menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri)
maupun orang lain.
11. Memiliki kemampuan untuk mengambil
keputusan secara efektif.
Juntika Nurihsan (2003 : 9) menyatakan tujuan bimbingan pada akhirnya membantu individu dalam mencapai:
1. Kebahagiaan hidup pribadi sebagai
makhluk Tuhan,
2. Kehidupan yang produktif dan efektif
dalam masyarakat,
3. Hidup bersama dengan
individu-individu lain, dan
4. Harmoni antara cita-cita mereka
dengan kemampuan yang dimilikinya. Dapat disimpulkan tujuan bimbingan pribadi
pribadi sosial yang harus dikembangkan dalam program layanan bimbingan dan
konseling adalah memfasilitasi siswa dalam mengarahkan pemantapan kepribadian
serta mengembangkan kemampuan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi dan
sosial siswa.
c. Fungsi BK Pribadi-Sosial
Fungsi dalam bimbingan pribadi-sosial yang diungkapkan oleh Totok (Rima Puspita, 2007:47-49), yaitu :
1. Berubah menuju pertumbuhan. Pada
bimbingan pribadi-sosial, konselor secara berkesinambungan memfasilitasi
individu agar mampu menjadi agen perubahan (agent of change) bagi dirinya dan
lingkungannya. Konselor juga berusaha membantu individu sedemikian rupa
sehingga individu mampu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk
berubah.
2. Pemahaman diri secara penuh dan
utuh. Individu memahami kelemahan dan kekuatan yang ada dalam dirinya, serta
kesempatan dan tantangan yang ada diluar dirinya. Pada dasarnya melalui
bimbingan pribadi sosial diharapkan individu mampu mencapai tingkat kedewasaan
dan kepribadian yang utuh dan penuh seperti yang diharapkan, sehingga individu
tidak memiliki kepribadian yang terpecah lagi dan mampu mengintegrasi diri
dalam segala aspek kehidupan secara utuh, selaras, serasi dan seimbang.
3. Belajar berkomunikasi yang lebih sehat.
Bimbingan pribadi sosial dapat berfungsi sebagai media pelatihan bagi individu
untuk berkomunikasi secara lebih sehat dengan lingkungannya.
4. Berlatih tingkah laku baru yang
lebih sehat. Bimbingan pribadi-sosial digunakan sebagai media untuk menciptakan
dan berlatih perilaku baru yang lebih sehat.
5. Belajar untuk mengungkapkan diri
secara penuh dan utuh. Melalui bimbingan pribadi-sosial diharapkan individu
dapat dengan spontan, kreatif, dan efektif dalam mengungkapkan perasaan,
keinginan, dan inspirasinya.
6. Individu mampu bertahan. Melalui
bimbingan pribadi-sosial diharapkan individu dapat bertahan dengan keadaan masa
kini, dapat menerima keadaan dengan lapang dada, dan mengatur kembali
kehidupannya dengan kondisi yang baru.
7. Menghilangkan gejala-gejala yang
disfungsional. Konselor membantu individu dalam menghilangkan atau menyembuhkan
gejala yang menggangu sebagai akibat dari krisis.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pengertian, tujuan, dan fungsi diatas dapat kami simpulkan bahwa Bimbingan pribadi-sosial berarti
upaya untuk membantu individu dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan
mengatasi konflik-konflik dalam diri dalam upaya mengatur dirinya sendiri di
bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu
seksual dan sebagainya, serta upaya membantu individu dalam membina hubungan
sosial di berbagai lingkungan (pergaulan sosial) (Yusuf, 2009: 53-55). Bimbingan
pribadi-sosial juga sebagai upaya pengembangan kemampuan peserta didik untuk
menghadapi dan mengatasi masalah-masalah pribadi-sosial dengan cara menciptakan
lingkungan interaksi pendidikan yang kondusif, mengembangkan sistem pemahaman
diri dan sikap-sikap positif, serta dengan mengembangkan kemampuan pribadi-sosial.
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan
(2005:14), merumuskan beberapa tujuan bimbingan dan konseling yang terkait
dengan aspek pribadi-sosial individu sebagai berikut : memiliki komitmen,
memiliki sikap toleransi, memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara
objektif dan konstruktif, memiliki sifat positif, memiliki kemampuan melakukan
pilihan secara sehat, bersikap respek terhadap orang lain, memiliki rasa
tanggung jawab, memiliki kemampuan berinteraksi social, memiliki kemampuan
dalam menyelesaikan konflik, dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan
secara efektif
Fungsi dalam bimbingan
pribadi-sosial yang diungkapkan oleh Totok (Rima Puspita, 2007:47-49),
yaitu : agar individu dapat berubah menuju pertumbuhan, memahaman diri secara
penuh dan utuh, belajar berkomunikasi yang lebih sehat, berlatih tingkah laku
baru yang lebih sehat, belajar untuk mengungkapkan diri secara penuh dan utuh, individu
mampu bertahan, dan menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional.
DAFTAR PUSTAKA
Surya,
M. (1988). Dasar-dasar Penyuluhan (Konseling). Depdikbud Dirjen Dikti
PPLPTK Jakarta.
Winkel,
W. S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:
Gramedia.
Yusuf,
S. (2007). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Prayitno.
(1987). Profesional Konseling dan Pendidikan Konselor. Padang: FIP IKIP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar